Assalamu'alaykum,  Ahlan wa Sahlan

Kisah Pusaka Kiswah Ka'bah di Keraton Yogya dari Kekhalifahan Turki Utsmani

Written By Indra Sb on Jumat, 27 Februari 2015 | 00.33

Kisah Kyai Tunggul Wulung Pusaka Keraton Yogya dari Turki yang Tak Boleh Difoto


Voice of Al Khilafah, Yogyakarta - Keraton Yogya ternyata menyimpan kiswah kakbah. Kiswah itu menurut pihak keraton didapatkan dari peninggalan kerajaan Demak. Kiswah itu diberikan kekhalifahan Turki kepada Raden Fatah penguasa Demak sebagai bukti adanya hubungan pada abad ke-14.

Kini peninggalan kiswah itu disimpan di dalam ruang pusaka keraton Yogya. Kiswah itu juga sudah diberi nama Kyai Tunggul Wulung.

"Itu sakral. Tidak boleh difoto," terang Panglima Keprajuritan Keraton Yogyakarta GBPH Yudhaningrat‎ yang juga adik Sri Sultan yang ditemui pekan lalu.

Setiap bulan Suro, menurut Yudhaningrat Kyai Tunggul Wulung tak pernah lupa dimandikan. "Iya oleh keluarga keraton," tutur dia.

"Pusaka itu bukti keraton merupakan kekhalifahan Islam," tambah dia.

Menurut dia, selain kiswah juga ada bendera hijau dengan lafaz tauhid yang dinamakan Kyai Pare Anom. Benda itu menurut Yudha, dikeluarkan bila ada bencana atau wabah.

"Kyai hanya hadir kalau Yogyakarta ada wabah atau bencana, yang pagi sakit, sore mati," urai dia. Dahulu di zaman Jepang benda yang dianggap keramat itu pernah dikeluarkan karena ada wabah pes.

Saat diarak, lanjut Yudha, yang membawa adalah abdi dalem dengan pangkat bupati. "Dan harus ikhlas, karena akan meninggal dunia setelah itu. Saat itu KRT siapa ya saya lupa, yang menyanggupi membawa tunggul wulung langsung mengumpulkan sanak saudaranya, aku pamit, aku mesti mati," tutur dia.

Benda itu juga tak bisa diperlihatkan ke publik. Hanya keluarga keraton dan abdi dalem saja yang tahu. Demikian juga saat diarak tak boleh ada yang tahu.

Soal kiswah dari Tukri itu pernah disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI 2015 (KUII-VI 2015) di Yogyakarta. Saat memberikan pidato pembukaan, Sultan sempat menyinggung mengenai bendera peninggalan kerajaan Demak yang ternyata pemberian dari kekhalifahan Turki.

"Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau," jelas Sultan dalam pidato sambutannya, awal Februari lalu. [detikcom/www.voa-khilafah.com]
00.33 | 0 komentar

Kala Sebagian Pemimpin dan Anggota Ikhwanul Muslimin Jatuh Hati Kepada Hizbut Tahrir

Written By Indra Sb on Kamis, 26 Februari 2015 | 08.13

Oleh : Adi Victoria
Dalam sejarah perjalanan dakwahnya, gerakan Ikhwanul Muslimin berdiri lebih awal daripada Hizbut Tahrir. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang mujtahid dan mujahid yakni al Imam asy syahid Hasan al Bana.
Tentang Hasan Al Bana menarik apa yang pernah disampaikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga merupakan seorang mujadid abad ini. Beliau berkata “Syekh Al Banna merupakan orang yang alim, cerdas, sungguh-sungguh dan seorang mujtahid” Buku Hizbut Tahrir Al Islamy (1992) halaman 83).
Syaikh taqiyuddin juga mengomentari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Bana, masih di judul buku dan halaman yang sama beliau berkata “Ikhwanul Muslimin merupakan jamaah Islam yang teguh dan tidak ada yang kurang padanya kecuali kajian tentang politik Islam”
Ittishal (Kontak)
Salah satu aktvitas yang selalu dilakukan oleh syabab Hizbut Tahrir adalah ittishal atau kontak. Ini sebagaimana merujuk kepada aktivitas dakwah rasulullah saw sejak dari Makkah hingga Madinah.
Sejak Allah SWT menurunkan surah al mudatsir. Nabi semakin memperluas zona dan obyek dakwahnya. Setelah sebelumnya beliau sukses mengajak orang dekat yang berda di ring satu seperti istri, maula beliau, sepupu beliau yakni ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau memasuki ring kedua yakni sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakar.
Melalui jaringan Abu Bakar inilah ring dua dapat dilalui dengan sukses. Islam diterima oleh Ustman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dll. Hingga akhirnya Islam diterima oleh banyak kalangan dari beragam latar belakang. Inilah titik awal dakwah nabi. Titik awal yang dimulai dari kontak (ittishal) yang beliau lakukan.Kontak ini pula yang dilakukan oleh Abu Bakar as Siddiq hingga kemudian banyak orang menerima Islam. Dari kontak inilah terbentuk generasi awal (as sabiqul awwalun). Dari generasi awal inilah terbentuk kutlah Rasul dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi hizb Rasul. Rasul saw adalah pimpinan hizb ini. Beliau mendidik anggotanya dan mengorgnisir aktivitas-aktivitas dakwah yang terarah dengan target yang jelas.
Hal ini juga yang kemudian dilakukan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Al-Ustadz Fauzi Sinnuqarth, menuturkan sejarah awal terbentuknya Hizbut Tahrir:

“Saya ingat, bahwa pertama kali beliau menjelaskan masalah Khilafah, ketika berada di Masjid al-Aqsa yang penuh berkah, di salah satu sudut sebelah barat daya. Di sana terdapat ruangan yang memanjang. Beliau berbicara kepada banyak orang setelah shalat Jum’at, suatu pembicaan yang sangat menyentuh dan jelas. Di sekeliling beliau ketika itu berkumpul ratusan orang. Beliau menceritakan kepada mereka Sirah Nabawiyyah. Sesekali beliau menceritakan wafatnya Rasulullah saw, dan bagaimana kaum Muslim setelah beliau wafat, mereka menyibukkan diri di Saqifah Bani Sa’adah untuk mengangkat seorang khalifah bagi mereka, sementara mereka membiarkan pemakaman beliau sampai bia’at kepada Abu Bakar as-Shiddiq berhasil dilakukan.
Jadi, itu merupakan pembahasan, dan pembicaraan pertama tentang penegakan khalifah serta seruan untuk menegakkannya. Peristiwa itu terjadi tepat pada tahun 1950 M. Syaikh Taqiyuddin kemudian melanjutkan kontak beliau dengan orang yang menginginkan kebaikan, yaitu para pemuda dari al-Quds. Lalu beliau pun mengontak para pemuda yang lain lagi, yang menginginkan kebaikan, atau beliau tahu kalau mereka itu baik dari daerah al-Khalil dan Tulkarim. Ketika beliau mendengar ada seseorang yang menginginkan kebaikan, atau beliau merasa bahwa dia baik, pasti akan beliau kontak. Dengan cara seperti itu, beliau berhasil merekrut banyak orang.
Beliau mengajak mereka berdiskusi dengan mendalam. Misalnya, diskusi beliau dengan salah seorang dari keluarga ‘Azzah, dan keluarga Hammad, sebuah diskusi yang mendalam. Melalui diskusi tersebut, beliau menulis pembahasan al-Qiyadah al-Fikriyyah fi al-Islam (kepemimpinan intelektual dalam Islam) yang telah dimasukkan dalam kitab Nidzam al-Islam. Diskusi beliau dengan seseorang, namanya Said Ramadhan tentang akhlak. Setelah itu, beliau menulis al-Akhlaq fi al-Islam (Akhlak di dalam Islam) dalam kitab Nidzam al-Islam.
Masuknya Sebagian Anggota Harakah 313 ke dalam Hizbut Tahrir
Harakah 313 merupakan harakah yang ada sebelum Hizb yang menyerukan tegaknya Daulah Islamiyah. Pendirinya adalah Syeikh Hamzah Abdul Ghafar Thahbub (sopir truk). Mereka beranggapan bahwa terpenuhinya anggota sebanyak 313 orang akan sempurna berdiri daulah (karena jumlah kaum muslim Mekah yang berhijrah ke Madinah adalah 313 orang muslim). Mereka mengharuskan anggotaanggotanya tidak berinteraksi dengan departemen-departemen dalam sistem pemerintahan kufur. Sampai-sampai mereka melarang salah seorang anggota mereka untuk pergi ke kantor polisi guna memberitahukan pencurian tokonya. Ketika Hizb at-Tahrir berdiri, simpul harakah 313 pun terurai karena mayoritas anggotanya bergabung dengan Hizb kecuali pendirinya.
Diantara mereka yang menonjol adalah : Ibrahim Syakir asy-Syarbati (mahasiswa Azhari dan sopir truk), Ahmad Ibrahim Misik (tukang roti), Abdul Ghafar asy-Syeikh Darah (pemilik restauran al-Quds di Amman sekarang), Syeikh Rabi’ Barakat al- Asyhab (tukang roti), Muhammad Nu’aim Utsman asy-Syarbati (sopir truk), Ya’qub Abdul Karim Abu Ramilah at-Tamimi (tukang samak kulit), Khalid Ahmad Ahmarou (penjahit), semua dari mereka bergabung ke dalam barisan Hizb at-Tahrir sejak awal. Mereka semuanya tanpa terkecuali memiliki sikap kepartaian yang sangat menonjol yang mengantarkan mereka ke penguntitan, penangkapan dan dipenjara beberapa kali.
Masuknya sebagian pemimpin Ikhwanul Muslimin dan kader nya ke dalam Hizbut Tahrir
Gerakan yang terkenal sebelum berdirinya Hizb selain gerakan 313 adalah gerakan Ikhwan al-Muslimin. Ikhwan al-Muslimin merupakan gerakan yang sudah lama dan lebih dahulu muncul di banding gerakan lainnya. Gerakan ini (Ikhwan al- Muslimin) didirikan oleh almarhum Hasan Abdurrahman al-Bana as-Sa’atiy di Mesir pada awal tahun 30-an abad ke dua puluh. Gerakan ini masuk ke Yordania melalui tangan seorang pengusaha yaitu Abdul Lathif Abu Qurah, dan ke al-Khalil melalui tangan seorang pengusaha, Isa Abdun Nabiy al-Nattsah.
Gerakan ini tidak sampai pada tingkat sebagai sebuah partai politik. Akan tetapi gerakan ini tetap sebagai jamaah khairiyah yang secara lembaga maupun aktivisnya diterima dan direstui oleh penguasa, khususnya Yordania, Saudi dan negara-negara arab teluk. Pendiri gerakan ini rahimahuLlâh, telah mengumumkan pada awal gerakan ini yaitu dalam ar-Rasâ’il dan buku Qadhiyatunâ bahwa mereka bukan orang-orang yang menyerukan kekuasaan atau perubahan pemerintahan, bahkan hal itu (menyerukan kekuasaan dan perubahan sistem pemerintahan) dianggap sebagai tuduhan yang harus ditolak.
Aktivis-aktivis gerakan ini mengumumkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyerukan reformasi atas kondisi yang ada, bukan yang lain, dibawah payung penguasa negeri yang bagi mereka dianggap penguasa yang adil. Oleh karena itu aktivitas mereka dibatasi melalui dakwah individual. Maksudnya adalah memperbaiki individu, akan memperbaiki usrah dan akan membuat masyarakat menjadi baik …
Aktivitas mereka di al-Khalil terbatas pada dakwah individual yang menyerukan akhlak, mengumpulkan harta untuk didistribusikan kepada orang-orang fakir dan untuk membiayai aktivitas-aktivitas kebaikan (sosial), permainan olah raga dan rekreasi, kelompok kepanduan13 , klinik kesehatan, diskusi mingguan setiap kamis sore di Dâr al-Ikhwân, perayaan berbagai hari besar Islam dan program tahfizh Quran. Semua aktivitas jamaah Ikhwanul Muslimin itu di organisasikan dari pusat (markas) mereka yaitu Dâr al-Ikhwân al-Muslimîn di satu bangunan yang disewa di jalan Syuhada’ yang terasnya memanjang sampai jalan Bab az-Zawiyah. Juga termasuk aktivitas mereka adalah kajian pusparagam di rumah-rumah.
Kajian itu mereka namakan “usrah”. Setiap usrah menggunakan nama dan memiliki anggaran sendiri-sendiri, dan daftar orang yang memberikan kajian.14 Jumlah anggota setiap usrah juga tidak dibatasi, kadang mencapai sepuluh orang atau lebih. Dalam pembentukan usrah-usrah itu terlihat jelas diperhatikan unsur stratifikasi. Usrah itu berkumpul pada hari tertentu setiap minggunya dan dihidangkan makanan, makanan pencuci mulut dan kue-kue.Tempat pertemuan dan tuan rumah pertemuan digilir diantara anggota usrah.Tidak ada kitab tertentu yang dibaca di dalam usrah, apalagi suatu program kajian tertentu dan mereka keras untuk menghafal al-Quran. Karakter usrah yang dideskripsikan di sini adalah fakta usrah pada akhir tahun empat puluhan dan awal lima puluhan. Fakta itu berbeda dengan bentuknya sekarang.
Ittishal yang dilakukan syaikh taqiyudin an Nabhani berhasil membuat sebagian para petinggi ikhwanul Muslimin berpindah dan masuk ke dalam gerakan Hizbut Tahrir. Syeikh Abdul Qadim Zallum, syeikh As’ad Bayoudh at-Tamimi, Syeikh Rajab Bayoudh, syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah dan syeikh Abdul Qadir Zallum –ketua kepanduan di Ikhwanul Muslimun dan komandan terdahulu di Jihad al-Quds dibawah H. Amin al-Husaini-, termasuk para pemimpin al-Ikwan al-Muslimun di al-Khalil.
Bergabungnya beliau-beliau itu ke dalam barisan Hizb mengakibatkan kekuatan perjalanan gerakan al-Ikhwan al-Muslimun merosot, mulai redup dan melemah eksistensinya, langkahnya tersandung-sandung dan anggota masyarakat yang menisbatkan diri kepadanya juga berkurang dan jumlahnya semakin kecil.
Oleh karena itu dengan segera datang dari Mesir ustadz Sa’id Ramadhan –menantu Hasan al-Bana sekaligus orang kedua di al-Ikhwan al-Muslimun Mesir setelah menantu Hasan al-Banna yang lain yaitu Abdul Hakim ‘Abidin pemilik majalah al- Muslimun yang terbit di Kaero kemudian pindah ke Swiss-. Ustadz Sa’id Ramadhan bertemu dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di rumah Muhammad dan Nashir asy-Syarbati di al-Khalil. Maksud pertemuan itu adalah untuk meyakinkan Syeikh Taqiyuddin agar membatalkan Hizb dan menggabungkan kedua jamaah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh para pemuka al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil, antara lain : Syeikh Syukri Abu Rajab at-Tamimi, H. Nashir Amin Al-‘Aidah al-Harbawi, Syeikh Muhammad Sa’id Shalah, Nashir Ahmad asy-Syarbati, Muhammad Ahmad asy- Syarbati, H. Isa Shalih Abdun Nabi an-Natsyah, H. Abdul Hafizh Mishbah Masudah, H. Abdul Fatah Hasan ath-Thahir al-Muhtasib, Muhammad Rasyad Abdus Salam ‘Arif, Abdul Wadud Abu Gharbiyah asy-Sya’rawi. Namun pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.
Hubungan Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan al-Ikhwan al-Muslimun.
Syeikh Abdul Qadim Zallum memiliki kedudukan tinggi diantara para ulama di daerah al-Khalil karena keluasan pengetahuan, kemuliaan akhlak, ketakwaan dan kelembutan perhatian beliau. Beliau seperti bintang yang bersinar-sinar diantara para ulama. Setelah lulus dari al-Azhar, beliau bekerja menjadi pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di al-Khalil. Beliau bergabung dengan jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil dan menduduki jabatan kepemimpinan. Tidak lama, lalu beliau keluar dari al-Ikhwan al-Muslimun dan bergabung dengan halqah ula di Hizbut Tahrir. Beliau sangat dekat dengan Syeikh Taqiyuddin. Sebagian besar pemimpin jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil mengikuti jejak Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan keluar dari jamaah untuk bergabung ke dalam barisan Hizbut Tahrir. Hal itu menyebabkan kegoncangan cabang jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al- Khalil.
Diantara pemimpin dan tokoh al-Ikhwan al-Muslimun cabang al-Khalil yang keluar dan bergabung dengan Hizbut Tahrir antara lain : Syeikh As’ad Bayoudh at- Tamimi-Abu Thal’at, Syeikh Rajab Bayoudh at-Tamimi-Abu Hamid, H. Abdul Qadir Zallum-Abu Faishal pendiri kelompok kepanduan al-ikhwan al-muslimiun di al-Khalil, H. Nashir Ahmad asy-Syarbati-Abu Hatim, Syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah-Abu Mushthafa mufti al-Khalil dan Syeikh Abdus Sami’ ar-Rifa’iy al-Mishri.
Saya (penulis buku kekasih-kekasih Allah) ingin tegaskan di sini ketidahsahihan riwayat yang ada di beberapa buku individu al-Ikhwan al-Muslimun yang menunjukkan bahwa utusan al-Ikhwan al- Muslimun dari Mesir adalah asy-Syahid Sayid Quthub. Yakni perkataan yang sering dinukil oleh kalangan pemudah ikhwan (generasi ikhwanul Muslimin) yaitu“biarkan saja mereka, mereka akan berhenti pada titik seperti awal ikhwan” yang dinisbatkan kepada asy-Syahid Sayid Quthub. Perkataan ini juga tidak benar. Perkataan perkataan ini dibuat-buat demi tujuan picisan, sudah nampak jelas kebohongan
mereka.

Sebagai pengaruh dari kegagalan pertemuan itu, mulai terjadi pergolakan pemikiran yang sengit disertai serangan yang keras dan zalim kepada Hizb dan para pengikut Hizb oleh individu-individu jamaah al-Ikhwan al-Muslimun.Sebagai contoh serangan itu, tatkala H. Nashir asy-Syarbati kemudian bergabung ke dalam barisan Hizb meninggalkan al-Ikhwan al-Muslimun, bersamaan dengan kedatangan rekan beliau dari Kuwait, akhi Abdul ‘Aziz al-Madhun yang datang meminta beliau kembali ke barisan al-ikhwan al-muslimun dan meninggalkan Hizb. Setelah diskusi yang panas, akhi Abdul ‘Aziz mengakhiri diskusi dengan mengatakan : “saya menganggap engkau seperti orang murtad dan saya tidak akan pernah sekalipun mengucapkan salam kepada engkau selama hidupku”.
Begitu juga sebagian mereka (orang-orang al-ikhwan al-muslimun) menjawab salam yang diucapkan oleh syabab Hizb dengan perkataan : “salam, kami tidak ingin menjadi kaum yang bodoh”. Hal itu seperti yang terjadi pada ustadz H. Abdul Qadir Zallum dan murid beliau yang durhaka, akhi Jibril Badawi al-Hanini.
Sebagian penulis al-ikhwan al-muslimun mengklaim bahwa Hizbut Tahrir adalah pecahan dari barisan mereka (al-Ikhwan al-Muslimun). Perkataan demikian sangat jauh dari kebenaran. Tidak satu orangpun dari halqah ula Hizbut Tahrir yang berasal dari al-ikhwan al-muslimun. Meski banyak dari hizbiyin generasai awal di al- Khalil berasal dari barisan al-ikhwan al-muslimun, namun mayoritas mereka berasal dari harakah 313. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari partai komunis.
Syeikh Taqiyuddin dan sahabat-sahabat beliau yang menduduki kepemimpinan Hizb tidak memiliki hubungan sama sekali dengan al-ikhwan al-muslimun.Begitu pula Syeikh Taqiyuddin tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jamaah H. Amin al- Huseini seperti yang diindikasikan oleh sebagian penulis al-Ikhwan al-Muslimun. Kedua perkataan itu (Hizb pecahan dari al-Ikhwan al-Muslimun dan adanya hubungan Syeikh Taqiyuddin dengan jamaah H. Amin al-Huseini) merupakan dua perkataan yang ditulis dari sisi kedustaan yang disengaja dengan tujuan buruk dan picisan. Sementara Ustadz Abdul Qadir Zallum lah rekan dekat mereka –sebelum bergabung dengan Hizb- yang memiliki hubungan dengan H. Amin al-Huseini. Karena sebelum bergabung dengan jamaah al-ikhwan al-muslimun, Ustadz Abdul Qadir Zallum menjadi bagian dari gerakan al-jihad al-Quds yang mengikuti jamaah H. Amin al-Huseini.
Sikap Masyarakat kala itu kepada Syaikh Taqiyudin dan kepada Hizbut Tahrir
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terkenal di masyarakat sebagai pendiri Hizbut Tahrir. Sampai-sampai Hizb pada awalnya disebut oleh masyarakat awam dengan sebutan “an-Nabhaniyun”. Sebagian mereka menyebut Hizb dengan sebutan “attâ’ûn ad-dawlah” yakni “rijâl ad-dawlah”.
Sebutan ini dinisbatkan kepada seruan paling menonjol yang diserukan Hizb yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. Khususnya setelah Hizb mengeluarkan buku “ad-Dawlah al-Islâmiyyah”. Meski berbagai sumber menyerang dan membantah Hizb dan meremehkan seruan penegakan daulah al- Khilafah, namun pendiri Hizb, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, tetap mendapat penghormatan yang tinggi dan kemuliaan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena beliau termasuk generasi awal pengajar yang mukhlish ketika pada tahun 30-an beliau menjadi pengajar di Madrasah ar-Rasyidiyah di al-Quds. Beliau juga sangat terkenal di seluruh bagian Palestina sebagai seorang alim alamah diantara ulama ulama yang terkenal dan sebagai seorang yang mulia yang lembut baik hati dan akhlak seorang yang jujur (benar) diantara orang yang paling jujur. Beliau sebagai contoh seorang alim yang bertakwa dan wara’. Syeikh Taqiyuddin tidak pernah sekalipun dicela perilaku beliau dari kelompok atau arah manapun. Bahkan hingga orang yang paling keras memusuhi Hizb sekalipun, memuji Syeikh Taqiyuddin akan kewara’an dan ketakwaan beliau. Begitu pula amir Hizb yang kedua Syeikh Abdul Qadim Yusuf Zallum. Beliau adalah seorang syeikh yang lembut dan murah hati, lulusan al-Azhar dan pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di kota al-Quds –ayah beliau, Syeikh H. Yusuf Zallum seorang hafizh al-Quran yang terkenal- yang mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi serta kecintaan dari masyarakat secara umum dan khususnya para syaikh.
Perlakukan Ikhwanul Muslimin kepada kadernya yang berinteraksi dengan Syaikh Taqiyudin
Berikut akan saya nukilkan salah seorang generasi awal syabab hizbut tahrir yang sebelumnya merupakan kader Ikhwanul Muslimin yakni Syaikh Abu Arqam (penulis buku ahbabullah/kekasih-kekasih Allah) yang mengisahkan kisah nya ketika keluar dari ikhwanul muslimin dan bergabung dengan hizbut tahrir.Beliau termasuk generasi pertama dalam barisan aktifis Hizbut-Tahrir (HT) yang pernah mendapatkan halqah dari Syaikh Taqiyiyuddin an-Nabhani rahimahullâh, pendiri Hizbut Tahrir. Berikut ini sekilas memoar beliau, sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Thalib Audhullah dalam buku, Ahbâbullâh.
Awal Pertemuan dengan HT
Sejak tahun 1950 saya telah bolak-balik di Dar al-Ikhwan al-Muslimin (Rumah/Sekretariat Ikhwanul Muslimin). Pada saat itu Syaikh Abdul Qadim Zallum, H. Abdul Qadir Zallum dan yang lain juga suka bolak-balik ke sana.Ketika kami berkumpul di sana, terjadi diskusi dan tanya jawab. Saat itu saya sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran baru yang dilontarkan Syaikh Abdul Qadim Zallum.
Sebelumnya bersama Ikhwanul Muslimin kami tidak terbiasa dengan pemikiran seperti itu. Hal itu membuat saya dekat dengan beliau rahimahullâh.
Kemudian kami mulai berdiskusi dengan saudara-daudara kami di Jamaah (Ikhwan). Hal itu membuat mereka berkata kepada kami, “Kalian membicarakan sesuatu yang asing bagi kami.” Akhirnya, terjadi keterasingan antara kami dengan Ikhwan di sekretariat itu.
Setelah itu kami mulai berkumpul di rumah Syaikh As’ad Bayaudh bersama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau hadir di al-Khalil. Ketika itu kami tidak lebih dari dua puluh orang. Saya ingat sebagian dari mereka seperti Syaikh Ibrahim asy-Syarbati dan saudaranya Ya’qub asy-Syarbati, H. Abdul Qadir Zallum, Ahmad Ibrahim Misik, Ibn al-Baladah al-Qadimah dan yang lain.Pertemuan biasanya berlangsung hingga azan subuh. Setelah kami menunaikan shalat subuh secara berjamaah lalu kami pulang ke rumah masing-masing.Ketika kami bertolak untuk menyeru masyarakat, mereka mengatakan kepada kami, “Kalian adalah pengikut ‘Nabi-Hani’ (plesetan dari Nabhani).” Sebagian yang lain menyebut kami ‘Nabhaniyun’.
Wallahu A’lam bisshowab. []
Sumber tulisan :
Buku Kekasih-Kekasih Allah, penulis Syaikh Abu Arqam
Buku Hizbut Tahrir Al Islamiy, penulis ‘Auniy Al Judu’ Al ‘Abidy
Boklet DARI MASJID AL-AQSA MENUJU KHILAFAH:SEJARAH PERJALANAN HIZBUT TAHRIR
htpartaiislamjp8
HIZBUT-TAHRIR-AL-ISLAMI-‘ARDHUN-TARIKHI-DIRASAH-‘AMMAH
[adivictoria/globalmuslim/www.voa-khilafah.com]
08.13 | 0 komentar

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) : Sri Sultan HB X Ungkap Hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan Tanah Jawa

Written By Indra Sb on Selasa, 24 Februari 2015 | 02.41

Pembukaan KUII VI di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Senin (09/02). (foto: KRYogya)
Voice of Khilafah - Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan tanah Jawa. “Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, Senin (9/2).

Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. “Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya,” ujarnya.

Menurutnya, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. “Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa, ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, dan bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah,” bebernya.

Sri Sultan juga menyebutkan pada 1903 saat dilakukan kongres khilafah di Jakarta, Sultan Turki mengutus M Amin Bey yang menyatakan haram hukumnya penguasa Muslim tunduk pada Belanda.

Ia juga menyebut atas dorongan Sultan, salah satu abdi ngarso dalem Sultan Yogja kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah. “Dialah KH Ahmad Dahlan!” tegasnya.
 
Terkait KUII, Sri Sultan pun berpesan. “Ulama punya dua peran yaitu tanggung jawab kepemimpinan dan penunjuk arah. Oleh sebab itu, badan pekerja kongres harus berani melakukan amar maruf nahi munkar pada pemerintah dan umat Islam, khususnya saat terjadi ketidakpastian seperti sekarang,” pungkasnya.
 

Berikut kutipan pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X selengkapnya:

Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah Saw dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, Kongres yang dirancang untuk napak laku Kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945, Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya.

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan, pada abad 19-20 muncul gerakan kebangkitan Islam. Pelopornya adalah Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ali Jinah. Mereka menganjurkan agar kaum Muslim membumikan ijtihad dan jihad fi sabilillah, serta memperkokoh solidaritas Islam.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa keberangkatan KH Ahmad Dahlan, yang saat itu adalah abdi dalem Kraton, justru atas dorongan dan dukungan Sri Sultan HB VII. Bakda membaca dalam "Tafsir AL Manaar" karya Abduh, pada 1912 ia pun mendirikan perserikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dalam artikel: "Indonersianisme dan Pan-Asiatisme", Bung Karno menulis "...abad-20 sudah tidak menjadi abad perbedaan warna kulit lagi, tapi sudah berubah menjadi abad yang memberikan jawaban terhadap problem of the colour-line.

Dalam tuylisan lain, "Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?", Bung Karno mengutip tulisan Frances Woodsmall, "Moslem Women Enter A New World", bahwa Turki Modern adalah anti-kolot, anti sosial lahir dalam hal ibadah, tetapi tidak anti agama.

Islam sebagai kepercayaan person tidaklah dihapuskan, sembahyang di masjid-masjid tidaklah diberhentikan, aturan-aturan agama pun tidak dhihgapuskan. "Kita datang dari Timur, Kita berjalan menuju ke Barat", demikian entri point artikel Bung Karno tersebut mengutip tulisan Zia Keuk Alp.

Di tahun 1903, saat diselenggarakan Kongres Khilafah di Jakarta oleh Jamiatul Khair, yang berdiri 1903, Sultan Turki mengirim utusan Muhammad Amin Bey. Kongres menetapkan fatwa, haram hukumnya bagi Muslim tunduk pada penguasa Belanda, dengan merujuk ajaran Islam "Hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Dari kongres inilah benih-benih dan semangat kemerdekaan membara.

Dalam bukunya: "The Rising Tide of Colour Against White World-Supremcy" (1920), Lothrop Stoddard mendalilkan keruntuhan supremasi kolonialisme Barat, karena cepatnya pertumbuhan (tide=pasang naik) populasi penduduk kulit berwarna. Dalam buku berikutnya, "The New World of Islam" (1921), ia meramalkan kebangkitan Dunia Islam di awal abad-20 untuk meraih kembali kejayaan masa silam adalah suatu keniscayaan sejarah.

Lalu, apa relevansinya uraian tersebut dalam konteks Kongres ini? Diharapkan Kongres ini menjadi jembatan antara penguasa dan rakyat melalui media forum komunikasi dan silaturahmi ulama. Sebagai forum ulama, paling tidak harus mencerminkan dua peran keualamaan, mas'uliyyatur ri'ayah -tanggungjawab kepemimpinan- dan ahdillatut thariqah -petunjuk jalan. Dengan dua peran utama itu, Kongres ini harus membawa aspirasi umat tanda membeda-bedakan mazhab sesuai fungsinya sebagai khadimul ummah -pelayan umat.

Sebagai wadah berkumpulnya para ulama, cendekiawan dan tokoh Muslim dalam beragam Mazhab, Badan Pekerja Kongres harus berani menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, berupa dakwah, pendirikan serta memberi nasihat politik berbasis keagamaan kepada pemerintah dan umat Islam atas suatu perkara, terutama saat terjadinya ketidakpastian seperti sekarang ini. Sehingga segala kebijakan, fatwa dan sikapnya selalu mengacu pada kemashlahatan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basariyah.

Dengan tema: "Penguatan Peran Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya yang Berkeadilan dan Berperadaban", berarti tidak hanya mencakup masalah ibadah atau ubudiyah, tetapi juga kemashlahatan di dunia, menyangkut mu'amalah -hubungan sosial- yang berkorelasi dengan urusan politik. Dengan berpedoman pada pendapat Bung Karno tersebut, kiranya Kongres ini akan menemukan solusi di jalan lurus-Nya.

Dengan harapan seperti itulah, Pemerintah dan Rakyat Yogyakarta menyambut digelarnya Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 ini. Semoga Allah Swt melimpahkan berkah serta rahmat-Nya, agar Kongres ini memberikan kemashlahatan bagi umat, bangsa dan negara dan rakyat Indonesia. Jangan sampai membuat bingung umat Islam, laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali perangkainya. Akhirul kalam, "Selamat ber-Kongres, semoga Sukses!"

Tertanda

Hamengku Buwono X
 
Selengkapnya bisa mendengarkan audio yang bisa diunduh di sini
 
[dari berbagai sumber, Voa-Khilafah]
02.41 | 0 komentar

Tokoh Gus Nuril Diusir Oleh Umat Islam Jakarta Karena Menghina Ulama dan Memuji Ahok

Voice of Khilafah - Sebuah Page Facebook yang bernama NU Garis Lurus memberitakan bahwa Nuril Arifin Hussein alias Gus Nuril, dipaksa turun oleh umat Islam pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW, Jum’at 20 Februari 2015, di Masjid Jami Assu’ada Jatinegara Kaum Jakarta Timur.

Insiden berawal ketika Nuril berceramah dengan langsung membawa-bawa nama Yesus. Nuril juga menghina Ulama dan para Habaib di Jakarta yang menolak Ahok.

“Habib harusnya bersyukur ke orang China, karena sebab China maka ada Maulid”, ucap Nuril yang membuat Jamaah semakin memanas.

Nuril juga menyatakan bahwa “Keturunan Rasulullah SAW sudah tidak ada, semua sudah mati dibunuh. Arab-Arab di Indonesia adalah Arab Badui semua, bukan keturunan Sayidina Ali dan Nabi Muhammad SAW”
 
Para jama’ah yang hadir dengan kompak meneriaki Nuril supaya turun dari panggung. Melihat protes dari semua jamaah yang hadir, Nuril akhirnya turun dari panggung ceramah.
Habib Ali bin Hussein Assegaf yang diundang oleh panitia bersama Majelis MT Nurul Habib dengan keras mengecam tindakan Nuril yang menghina para Habib dan memuji-muji umat agama lain. Habib Ali juga berpesan kepada para panitia Maulid agar jangan sembarang mengundang Penceramah yang akhirnya membuat umat saling bermusuhan.

 
Pembicara lainya, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menjelaskan bahwa Nuril terbiasa ceramah di gereja. Habib Syech juga mengatakan orang semacam itu bukanlah Ahli Sunnah, tapi Ahli Dholalah (kelompok sesat).
“Mereka (Nuril Liberal cs) adalah penyakit-penyakit yang ada di negeri ini, mereka yang akan merusak bangsa kita dengan dalih toleransi. Mereka sebenarnya hanya menjual agama Islam di depan pemeluk agama lain demi duit!” Demikian ucapan Habib Syech dengan berapi-api. [dakwahmedia/voa-khilafah]
00.06 | 0 komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Top Recommendations

Activity Feed

Hak Cipta Hanya Milik Allah SWT, Menyadur dan Menyebarkan isi Website ini Sangat di anjurkan. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Yuuk Disini

Memuat...

Kutipan

"‎... Jika penaklukan Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti..." (sebagian khutbah Muhammad Al Fatih)

Subhanallah.. ^__^ lalu Masih adakah yg meragukan.. Bisyarah Beliau ttg tegaknya kembali KHILAFAH..??

Visitors

Arsip